Aku sering tidur
dengan pelukan rindumu. Engkau cinta yang disebut keindahan.
Tapi aku tidak mengenalmu, siapa engkau sebenarnya?
Jika kau mampu membutakan mata, bagaimana engkau membutakannya sedangkan melihatmu saja tidak bisa. Aku memilih kebodohan saat merasa bersamamu, bodoh yang begitu membodohkan.
Cinta, siapa engkau sebenarnya?
Apa tempatmu di hati?
Lalu mengapa kau merusak sarangmu saat engkau pergi, apa melupakan itu kejam?
Ah, mungkin kau hanya sebuah symbol untuk mewakili kebahagian. Mungkin saja kau hanya kata yang diselipkan saat sakit itu menyakitkan.
Cinta, jika benar adamu, dimana engkau saat aku lupa menyapa malam untuk terlelap?
Jika memang ada datanglah malam ini, dengan begitu aku bisa mempercayaimu, menitip kebahagianku saat aku tidak mampu menyimpannya.
Lalu jawab tanyaku, siapa engkau sebenarnya?
Tapi aku tidak mengenalmu, siapa engkau sebenarnya?
Jika kau mampu membutakan mata, bagaimana engkau membutakannya sedangkan melihatmu saja tidak bisa. Aku memilih kebodohan saat merasa bersamamu, bodoh yang begitu membodohkan.
Cinta, siapa engkau sebenarnya?
Apa tempatmu di hati?
Lalu mengapa kau merusak sarangmu saat engkau pergi, apa melupakan itu kejam?
Ah, mungkin kau hanya sebuah symbol untuk mewakili kebahagian. Mungkin saja kau hanya kata yang diselipkan saat sakit itu menyakitkan.
Cinta, jika benar adamu, dimana engkau saat aku lupa menyapa malam untuk terlelap?
Jika memang ada datanglah malam ini, dengan begitu aku bisa mempercayaimu, menitip kebahagianku saat aku tidak mampu menyimpannya.
Lalu jawab tanyaku, siapa engkau sebenarnya?



Posting Komentar