.
Mengingat blog ini udah lama nggak update, menimbang blog
ini perlu di-service, maka gue dengan mantap menulis apa yang nggak bisa gue
ceritakan saat khotbah jum’at. Berhubung sebentar lagi umat muslim bakal
merayakan Idul adha, jadi gue bakal menulis kebiasaan mahasiswa menghadapi Idul
adha (libur).
Dalam kamus mahasiswa/i di dunia, libur merupakan sesuatu
yang sulit untuk ditinggalkan. Khusus di Indonesia, dan lebih khususnya lagi
aceh, ,hari libur sudah sama banyaknya dengan hari nggak libur. Selain libur
semester, juga ada libur hari-hari besar agama seperti Idul Adha yang sebentar
lagi akan dihadapkan kepada kita. Nggak
lama sih, tapi ngangenin.!
Malam ini dan malam-malam
berikutnya, mimpi tentang datangnya Idul Adha sudah menjalar dalam tidur semua
mahasiswa/i, termasuk gue yang udah mikirin libur sejak hari pertama kuliah. Di
segala penjuru kampus cerita tentang
idul adha menjadi topik hangat untuk diperbincangkan, di kantin,
parkiran, kelas, wc, dan tempat-tempat
di luar jangkauan CIA. Sampe-sampe dosen yang lagi ngajar tiba-tiba berhenti,
lalu bilang :
“ eh,
Idul adha nggak lama lagi lo, bapak udah nggak sabar pengen tidur 2 hari
penuh.”
Lah, ini
dosen apa satpam??
Oke,
mungkin tulisan gue monoton banget, soalnya gue ngetik pake jempol.
Bagi gue,
libur sama nggak libur tetap sama. Gue punya waktu libur sendiri yang gue susun
sendiri pake kalender sendiri. Jadi libur Idul Adha gue anggap sebagai sesuatu
yang lupa gue tulis di kalender gue. Dengan begitu momen liburan ini bakal gue
manfaatkan untuk menyibukkan diri, menulis laporan, jurnal, dan tugas-tugas
lainnya yang gue nggak tau. Kalo mahasiswa lain mudik, gue enggak………tinggal
diam! #MentalMahasiswa.
Jika
ditanya mengapa mahasiswa mudik saat libur Idul Adha, mungkin jawaban mereka
sama, kecuali gue.
alasannya mungkin : “pengen lebaran bareng keluarga”, “kangen mama”, “pengen qurban bareng warga kampung”, atau jawaban paling brutal : “aku pengen shalat di samping mama dan papa” (gimana ceritanya mama-papa berada di shaf yang sama?).
alasannya mungkin : “pengen lebaran bareng keluarga”, “kangen mama”, “pengen qurban bareng warga kampung”, atau jawaban paling brutal : “aku pengen shalat di samping mama dan papa” (gimana ceritanya mama-papa berada di shaf yang sama?).
Kalo
alasan gue simple, “gue dipulangkan karna
cedera habis di-sliding tackle sama sapi calon qurban” (harusnya ini lucu).
Lalu Imam membatalkan shalatnya dan menoleh ke belakang, “what? Are you
serious?”. Jama’ah pun bubar.. oke sorry, ini becanda.
Idul Adha
identik dengan “qurban”. Nah, tujuannya adalah untuk dibagikan pada orang-orang
kurang mampu, yatim, musafir, dan lain sebagainya. Intinya kita diajarkan untuk
berbagi. Mengingat hal ini gue jadi berfikir untuk tidak mudik, karna di sini,
di tempat gue apa adanya, gue bakal dapat tuh jatah qurban. Muhehmuheh. Sementara
kalo gue pulang kampung, gue nggak bakalan kebagian jatah, malah gue yang di
qurban… *mewek*
Ngomongin
qurban, gue jadi keingat hewan-hewan calon qurban. Betapa gelisahnya mereka,
mungkin tidur aja nggak enak, apalagi kalo ada yang insomnia, pasti galau
sepanjang malam. Kira-kira yang terngiang dikepala “KENAPA DI DUNIA INI HARUS
ADA JIN ?” (lho?). enggak, bukan itu. Tapi gini “bentar lagi gue bakal
dipancung, gimana nasib keluarga gue ? gimana dengan mimpi-mimpi yang belum gue
gapai? Dan gimana juga sama hewan ternak gue? Siapa yang bakal kasih makan
mereka ?”.
Gue juga
yakin, hewan-hewan calon qurban sekarang lagi nyari akal supaya bisa lolos dari
qurban. Ada yang sengaja diet biar kurus dan gak di qurban. Ada yang pura-pura
jadi gila. Dan mungkin ada juga yang ngetweet “Doaen akuh eaa qaqa’!!”.. mungkin…
Nah, ini
jadi pelajaran buat kita yang masih diberi sedikit waktu untuk menggapai
mimpi-mimpi kita, mengurusi ternak kita, diet, dan ngetweet. #halah
Berhubung
sudah larut, gue rasa cukup gitu aja wejangannya. Jangan sia-siain waktu,
menunda-nunda pekerjaan, karna belum tentu matahari bakal nongol esok pagi. Selamat
mudik bagi yang mudik, salam sama keluarga kalian. Selamat mencicipi hari
merdeka buat mahasiswa, selamat Idul adha.













