Yap, sahabat ibarat modal usaha, ia tidak memberi jaminan bahagia, tapi
menutupi kerugian. Sahabat berada dalam posisi midfielder dalam istilah sepakbola sebagai penyeimbang permainan,
sahabat berada di tengah-tengah antara bahagia dan derita. Seperti gue sama
sahabat gue yang setia, kita dekat dengan derita dan tidak jauh dengan bahagia.
Kita ditengah,. Gue, bukan manusia yang hidup seperti bocah basah kuyup saat kehujanan,
yang bisa tertawa lepas karena hidup tanpa masalah, iyaaa… masalah!! begitulah
hidup, selalu diterpa oleh masalah, sepertinya masalah terlalu agresif untuk
dihindari.” Hadapi” saja. gue pikir, itu kata yang tepat untuk menyelesaikannya.
Tapi, seperti yang gue bilang tadi… masalah terlalu agresif untuk di hindari,
kadang, gue bisa menyelesaikannya sendiri dan terkadang tidak ! kadang gue menyerah, namun sahabat yang
mengajari gue cara berdiri untuk membendung masalah itu. Kadang juga ia yang berdiri
saat kaki gue tidak mampu menopang tubuh ini untuk meredam ke”agresif”an
masalah #dalem #DalemCelana
Tuhan memang menciptakan manusia secara berpasangan, tapi pasangan gue
kan belum nyata, masih buram. Dan gue yakin, Tuhan memberikan sahabat untuk
gue, supaya gue nggak kesepian tanpa pasangan. Tapi ada juga sebagian manusia
yang endingnya menjadikan sahabatnya sebagai pasangan, itu sih “dalem” banget
menurut gue, secara sahabat gue kebanyakan cowok. #malumalu #dibakarmassa.
dan gue punya sahabat cowok yang multifungsi, ya dia temen gue sejak SMA. Gue nggak tau gimana ceritanya ini anak bisa akrab sama gue, secara kita tuh ya beda marga, dia marga “situmorang” dan gue “situbuyung”. Beberapa orang menyebut kami pacaran (homo), ini nggak bisa dibiarkan.!! Tapi, itu nggak bener dong ya, soalnya kami berdua machonya selangit, dia berjenggot dan gue ber’jenglot’. Gue menyebutnya multifungsi karna dia bisa merubah segalanya, misalnya saat gue lagi kelaperan, dia bisa berubah jadi bakso sapi yang cukup dimakan selama seminggu. Kalo lagi sama-sama galau atau punya masalah asmara ecek-ecek, biasanya kita berbagi (duit). Memang agak feminim sih, tapi itulah arti persahabatan menurut kami, membuat segalanya terlihat gila, lalu menertawakan kegilaan itu. Yap, begitulah kami, dua manusia yang mengikat diri dalam persahabatan, bukan per-homo-an. Banyak hal yang kami lewati bersama, ada hal buruk dan tidak sedikit juga yang indah…dua hal bertolak belakang itu seakan sejalan saat kami mengenangnya, tidak ada cerita sedih, mungkin muka kami terlalu canggung untuk ekspresi itu atau mungkin Tuhan cukup mengerti dengan kami yang tidak sanggup bertahan jika terlalu larut dalam kesedihan, sehingga Tuhan dengan adilnya meminimalisir kesedihan dengan mendatangkan sahabat, yah walaupun agak jelek sih.
Endingnya, kami berdua membuat blog ini.!!
I’m my friend. Mungkin slogan seperti ini terdengar kayak suara kentut yang falseto, tapi begitulah
adanya, orang dapat menilai kita dari siapa sahabat kita. Misalnya, kalo kita
punya sahabat preman yang tatonya sampe ke lobang idung, nah orang bakal
nganggap kita jahat atau suka kekerasan (bukan suka yang keras-keras).
nah, gue yakin kalian juga punya sahabat. yakin aja, akan ada masanya dimana semua hal gila yang lo lakuin bareng sahabat bakal hilang bersama waktu. misalnya pas udah sama-sama nikah, nggak mungkin lo masih main congkel-congkel upil bareng sdahabat lo. bisa ditalak sepuluh sama pasangan lo.
so,
jangan permasalahin persahabatan demi apapun, karena persahabatan tidak pernah mengorbankan apapun.
Yaudah, sekian dulu
postingan kali ini. Gue cuma mau nyampein kalo bentar lagi kan pemilu, jadi
siapin kelingking mu dengan baik dan jangan golput. Mehehehe...


